sumarketer

Sunday, October 01, 2006

3G Si Pencuri Tulang Rusuk

3G Si Penculik Tulang Rusuk
Kejujuran Ada Di Jari Kita


Apa yang ada di benak pria mendengar nama seorang wanita Vivienne?
Wanita cantik semampai dengan wajah mempesona?

Sebuah persepsi yang tidak keliru. Nama nan indah ala kebarat-baratan yang menggugah hati pria normal. Namun, tunggu dulu. Bagi pria yang kurang percaya diri mungkin akan sulit mendapatkansi Viviene. Ya itulah persepsi 5 atau 10 tahun lalu. Meniru sebuah iklan seluler “Hari gini nggak bisa dapat Viviene? Jaman sekarang tidak perlu khawatir, apapun bisa didapatkan dengan 3G apalagi hanya seorang wanita impian atau bahkan pria impian.

Ya, semuanya gara-gara sebuah perusahaan penyedia teknologi dan aplikasi bergerak di Hongkong bernama Artificial Life, Inc. (ALI) di tahun 2004 yang lalu meluncurkan V-Girl alias Virtual Girlfriend yang dapat “dikencani” dengan jasa 3G dengan biaya bulanan hanya $6

Para pria baik yang masih jomblo, single, menikah, duda atau doyan poligami dengan bebas bisa berkencan dengan V-Girl ini. Tanpa perlu banyak peraturan bisa mengadakan kencan. Bahkan si pria dengan bebas bisa memilih karakter, pekerjaan dan tentu saja body yang diidam-idamkan. V-Girl menawarkan 5 pilihan mulai dari the athlete, the socialite, the dreamer, the sweetheart dan the devil in disguise.

Dijamin gak akan bosan. Kalau para pria hidung belang selama ini sering berguyon “Masak tiap hari makan sayur asem di rumah, sekali-kali coba tahu bacem di luar rumah dong”, maka sekarang pilihan “tahu bacem” nya tidak perlu di luar rumah lagi, cukup melalui telepon seluler (ponsel) dan koneksi 3G

Si pria bisa mengeluarkan semua jurus rayuannya dan membelikan berbagai hadiah mulai dari baju model terbaru, cokelat, bunga dan perhiasan dan berkencan selama 24 jam kapan sapa dan dimana saja. Celakanya lagi, pria membelikan hadiah virtual tetapi dengan uang beneran! “Kasian deh loe”, mungkin itu ucapan dari kelima sosok pacar maya tersebut. Pria memang seringkali mau menghabiskan apa saja untuk wanita.

Tidak cukup hanya itu, melihat “kecemburuan” wanita dengan hadirnya “pesaing” mereka yang selalu setia dan “always on” selama 24 jam, ALI dengan cepat menangkap sinyal kecemburuan tersebut dengan meluncurkan V-Boy alias Virtual Boyfriend di awal tahun 2006.

Dengan konsep yang serupa V-Girl, para wanita juga bisa memilih pacar idamannya mulai dari seorang venture capitalist, body builder, café manager, actor/model dan pilot yang bernama Baxter, Kai, Jacky, Rex dan Skylar! Keren Bok! So, jangan takut gak laku. Semua wanita dan pria pasti laku asalkan memiliki ponsel 3G.

Itulah sebuah contoh bagaimana 3G dalam aplikasinya sehari-hari telah mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan termasuk hal terindah dalam sejarah perjalanan hidup seorang manusia yaitu berhubungan dengan lawan jenis.

Di era jaman sekarang dimana teknologi informasi tersedia dengan mudah dan cepat, tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan pria dan wanita juga sedikit banyak terpengaruh. Perselingkuhan diam-diam sering tercium oleh seorang istri hanya gara-gara SMS atau sisa miscall yang belum sempat dihapus.

Lalu, apakah kehadiran 3G akan sedikit membantu? Sebagian wanita yang disurvei oleh CNN justru menunjukkan sikap positif terhadap kehadiran pacar wanita virtual ini. Bagi mereka, lebih aman untuk “membiarkan” cowok mereka “berkencan” dengan pacar virtual dibandingkan harus berpaling kepelukan wanita beneran. Mengapa mereka berpikir seperti itu? Karena pria tidak bisa dipercaya! Itulah alasan utama mereka.

Kalau wanita sering disebut sebagai tulang rusuk seorang pria, maka mengutip penelitian CNN tersebut seharusnya wanita berbahagia karena tulang rusuk pria bukan dicuri oleh sesama tulang rusuk tetapi justru oleh penyelamat mereka yang dikenal dengan 3G. Lebih baik kan selingkuh dengan ponsel.

Layanan 3G atau 3rd generation service memang cukup menghentakkan dunia teknologi seluler dan kehidupan manusia dalam tingkat tertentu. 3G merupakan layanan komunikasi bergerak yang menjanjikan peningkatan bandwidth hingga 384 Kbps ketika diakses dalam keadaan diam dan berjalan, sementara kalau di kendaraan yang bergerak, kecepatannya sekitar 128 Kbps. Sedang untuk aplikasi tetap bisa mencapai 2Mbps.
Sebenarnya penggunaan istilah 3G diawali dari pemikiran untuk menciptakan standar konvergensi telekomunikasi seluler suara dan data pada tahun 1996-1997. Dalam perkembangannya, konsep konvergensi ini disebut sebagai generasi ketiga (3G) dari perkembangan teknologi telekomunikasi seluler.


Di mana generasi keduanya (2G) ditandai dengan berkembangnya teknologi seluler digital (dengan teknologi GSM) dan generasi pertama (1G) melalui teknologi seluler analog (AMPS).

Secara kasat mata, potensi 3G dianggap cukup besar khususnya dari perspektif jumlah pelanggan GSM, CDMA dan TDMA yang telah mencapai lebih dari 2 miliar – menurut GSM Association, pengguna GSM sendiri telah mencapai 2 miliar pada Juni 2006 – yang bisa dibilang merepresentasikan besarnya potensi peluang pasar 3G di dunia.

Memang tidak semua penerapan 3G memberi hasil sebagaimana diharapkan. Namun demikian, Wireless World Forum memberikan angka yang cukup optimis dimana pelanggan 3G global meningkat dari 45 juta (2004) menjadi 85 juta pada 2005.
Dua negara yang tergolong berhasil mengkomersialkan 3G adalah Jepang dan Korea. Kedua negara ini memang dikenal memiliki penetrasi ponsel per kapita tertinggi di dunia. Bahkan 2/3 (di Jepang mencapai 68 persen sementara Korea mencapai 76,7 persen) pengguna ponsel di sana telah menggunakan 3G yang berarti – menurut UMTS World – 10 kali lebih cepat penetrasinya dibandingkan Amerika Serikat

KDDI adalah operator seluler tersukses untuk urusan 3G setelah SKTelecom Korea. Meskipun jumlah pelanggan KDDI hanya 14 juta tetapi pengguna 3G mencapai 6 juta, sementara NTTDoCoMo dengan 58 juta pelanggan hanya menghasilkan 190 ribu pengguna 3G. para pengguna 3G di Jepang dan Korea rela menambah anggaran rata-rata 30 persen untuk menikmati jasa 3G ini.

Jepang dengan total pengguna 3G sekitar 16,5 juta terbukti lebih tinggi dibandingkan misalnya Italia dan Inggris yang masing-masing 6,8 juta dan 4 juta pelanggan. Ternyata penetrasi 3G di Asia memang terlihat lebih berhasil dibandingkan Eropa atau Amerika.

Salah satu fenomena pemicu adalah para pengguna seluler di Asia memiliki tanggapan yang lebih positif terhadap teknologi baru sehingga lebih gemar mencoba layanan baru dan berganti ponsel melebihi pelanggan AS dan Eropa.

Menurut survei yang dilakukan Ericsson Consumer Lab di Indonesia, men-download musik dan menonton televisi melalui ponsel adalah bagian dari tiga layanan menarik utama. Hal ini menunjukkan potensi besar untuk kedua layanan tersebut di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan oleh Mobile Life 1 yang dipimpin oleh Professor Paddy Barwise dari London Business School di tahun 2005 menunjukkan 10 hal yang paling diinginkan pelanggan melalui 3G yaitu Mobile coupon redemption, Parking meter payment, Loyalty cards, Season tickets, Credit/Debit cards, Flight check-in, Vending machine payment, Retail checkout, Marketing communication dan Using your mobile as a key.

Lalu, kira-kira apa yang membuat 3G memiliki prospek besar? Secara umum, ada 3 hal yang membuat 3G memiliki daya tarik bagi pengguna ponsel.

Pertama, 3G memiliki interactive speed (kecepatan interaktif) yang on-time yang tidak dimiliki oleh teknologi dan atau media-media lainnya. Dengar saja bagaimana cerita seorang agen properti yang mendatangi calon penjual rumah dengan membawa handphone 3G. si agen akan mengambil foto rumah yang hendak dijual, kemudian mengirimkannya ke website kantor. Dalam waktu sekejap, sang agen akan membuka website kantornya dan menunjukkan bagaimana dalam hitungan menit dan bahkan detik, foto rumah tersebut telah terpajang untuk dijual.

Misalnya orang tua yang baru mendapatkan bayi pertamanya dapat mengirimkan mobile video secara langsung kepada sang nenek atau kakek atau bahkan seorang teman yang sedang pesta dan mabuk dapat mengajak temannya ikut merasakan suasana tersebut jika kebetulan tidak bisa hadir.

Penggunaan 3G untuk layanan entertainment seperti mobile video, music download, video games, mobile dating, blogging, video calls, e-commerce, mobile banking, sales force management, dan video conference dapat menghemat waktu yang diperlukan manusia. Ambil contoh Finlandia yang teknologi 3G nya berhasil menguasai 40% penjualan tiket bus. Contoh lain adalah Kroasia dimana 50% pembayaran parkir menggunakan layanan 3G dan Austria yang 20% pembelian tiket konser musik melalui 3G. Di Asia Tenggara, Filipina memanfaatkan 3G untuk pembelian tiket penerbangan.

Bahkan di Eropa sempat dilakukan ujicoba MobiHealth yang didukung oleh Commission of the European Union. Sembilan ujicoba yang dilakukan di Jerman, Belanda, Swedia dan Spanyol tersebut memungkinkan pemeriksaan medis kapan saja dan dimana saja memanfaatkan teknologi 3G. MobiHealth mengembangkan Body Area Network (BAN) yang dapat melakukan remote detection.

Dari segi bisnis juga bisa mempengaruhi kecepatan pemasaran seperti apa yang dilakukan oleh Singapore Telecom (Singtel) yang memasarkan serial drama “The Prince Who Lost His Memory” sepanjang 10 episode dengan durasi 3 menit. Film baru dapat dipasarkan dengan cepat dan tentu saja bisa menjadi sebuah feedback sejauh mana respon pasar terhadap sebuah produk baru.

Perusahaan produsen pakaian Workgear Company bahkan membekali setiap penjualnya dengan ponsel Nokia 6680 yang dibekali 3G. Saat penjual menemui pelanggan, ada kemungkinan produk yang mereka bawa bukanlah yang dicari oleh pelanggan. Untuk itu, sang penjual dapat melakukan video call ke gudang dan menunjukkan semua persediaan di gudang tanpa perlu menghabiskan biaya transportasi harus bolak-balik ke gudang.


Kedua, manfaat pertama berupa interactive speed memberikan manfaat positif dari segi moral yaitu menghasilkan sebuah interaksi yang penuh dengan kejujuran. Kejujuran bukan lagi dinilai dari omongan atau perkataan tetapi ada di jari tangan kita.

3G juga lah yang akhirnya menciptakan model baru kejujuran yang disebut thumb-based honesty (kejujuran berbasis jari). Thumb generation membantu pemilik perusahaan mengambil keputusan dengan cepat dan dapat langsung memeriksa apakah seorang salesman benar berada di toko pelanggan atau justru di panti pijat. Seorang wanita/istri dapat mengecek kebenaran keberadaan pacar/suaminya. Dengan adanya 3G, waktu dalam hidup rasanya lebih produktif!

Tanpa 3G, misalnya dengan SMS, rasanya kebohongan masih dimungkinkan. Tidak percaya? Penelitian yang dilakukan oleh Mobile Messaging Association menunjukkan kalau 45% responden mengaku berbohong tentang lokasi keberadaan mereka memanfaatkan pesan teks. Kalau hanya modal teks, apapun bisa dimanipulasi, bukan? Jadi, 3G memberikan manfaat positif berupa sebuah kejujuran. Seorang suami atau istri tidak bisa berkata ada dikantor seandainya dia sedang ada di pub. Kecuali pub tersebut menyediakan ruangan khusus untuk berbohong.

Sebuah manfaat 3G yang cukup positif meskipun bisa menjadi hambatan juga karena sebagian pria di Hongkong yang di survei ternyata menolak layanan 3G yang bisa menguak “kebohongan” mereka.

Ketiga, kehadiran teknologi 3G memungkinkan sebuah interaksi yang sangat intim dan personal. Interaksi dengan kecepatan tinggi dan on-time dapat memunculkan kesan dan perasaan personalisasi. Contoh V-Boy dan V-Girl diatas menunjukkan bagaimana personalisasi hubungan dapat tercipta melalui 3G.

Pernah dengar The Lovers’ Guide? Situs asal Inggris ini memang dikhususkan untuk mereka yang sudah dewasa tapi tidak dapat digolongkan sebagai situs porno. Situs ini sebenarnya lebih ditujukan untuk pasangan yang berniat untuk membuat hubungannya makin romantis khususnya masalah hubungan seksual. Situs yang memberikan berbagai tips berkaitan dengan hubungan suami istri dan juga berbagai video edukasi yang “cukup sopan”

Lalu, apa hubungannya dengan 3G? Ya, The Lovers’ Guide bekerjasama dengan operator bermerek 3 di Inggris untuk menjual video-videonya yang selama ini bisa didapatkan melalui website.
Video edukasi dengan durasi 30-60 detik tersebut yang diberi julukan “sexy, sensual, moral and responsible” nantinya tersedia untuk para pelanggan 3 meskipun mereka harus membuktikan diri telah berusia di atas 18 tahun.
The Lovers’ Guide memang menjadi fenomena unik sejak awal peluncurannya di tahun 1991 yang berhasil menjual lebih dari 1,3 juta kopi di Inggris saja belum termasuk belahan dunia lainnya. Penawarannya berkembang dari sekedar DVD menuju SMS tips dan akhirnya pemanfaatan 3G untuk mobile video.
Di Eropa, Mobestar bergabung dengan 3G-Scene mengembangkan teknologi 3G Video Dating yang menyediakan jasa kencan bergerak kepada operator di seluruh dunia. Salah satu pelayanannya adalah FACE (Flexible Anonymous Communications Engine) yang memungkinkan pengguna melakukan video dan voice calling dengan teman kencannya personally.
Lalu, kenapa kelebihan-kelebihan tersebut ternyata justru tidak membuat 3G berhasil di semua belahan dunia seperti Eropa atau AS. Tercatat hanya Jepang dan Korea yang tergolong cukup berhasil. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Kita perlu menyadari tujuh alasan dibalik keberhasilan penetrasi 3G di Jepang dan Korea. Pertama, penduduk Jepang dan Korea memiliki tingkat “kegilaan” yang tinggi terhadap produk-produk baru baik itu teknologi maupun fashion dimana mereka berganti ponsel rata-rata 6 bulan sampai dengan 2 tahun sekali.

Kedua, Jepang dan Korea merupakan negara dengan budaya yang serba cepat. Korea misalnya terkenal dengan babli-bbali yang berarti cepat dan buru-buru sehingga waktu sangat berharga. Ketiga, infrastruktur teknologi yang solid dimana Korea merupakan negara pertama mengkomersialisasikan CDMA, sementara Jepang merupakan negara pertama memperkenalkan 3G.

Keempat, pemerintahan kedua negara secara agresif mendorong pertumbuhan teknologi elektronik yang akhirnya memicu produsen ponsel dan juga perusahaan untuk memanfaatkan ponsel dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.Kelima, 2/3 dari populasi telah menggunakan ponsel sehingga menciptakan critical mass dan society independency. Satu sama lain saling terikat dengan jasa ponsel.

Keenam, Korea dan Jepang merupakan negara dengan area yang padat sehingga lebih mudah mengembangkan BTS yang dapat berada dalam jarak dekat sehingga menghasilkan pengalaman menikmati ponsel yang lebih sempurna. Ketujuh, budaya kedua negara yang sangat menghargai waktu dan senang membaca. Tidak heran jika mereka memanfaatkan teknologi 3G untuk berinteraksi, membaca dan atau apapun di setiap waktu senggang mereka dalam perjalanan di kereta atau bus.

Dibalik tiga kelebihan 3G seperti disebutkan di atas, di Indonesia sendiri masih terdapat beberapa hambatan untuk penetrasi 3G.

Pertama, handset yang masih tergolong mahal dan aplikasi yang masih kurang user-friendly. Para pengguna 3G di Eropa sering kali hanya mengejar handphone 3G yang diberikan secara gratis oleh operator 3G. Untuk apa? Ternyata untuk memperoleh kamera handphone yang baik karena dapat menghasilkan gambar yang baik. Tentunya untuk menghemat pulsa umumnya para pelanggan ini tidak menggunakan 3G untuk mengirimkan gambarnya.

Kinerja layanan operator juga masih sering tidak stabil. Sebut saja misalnya pengiriman SMS yang kadang sering terlambat, berbeda jauh dengan di Filipina yang dapat terkirim dalam tempo 1 detik. Lalu bagaimana dengan 3G?
Kedua, faktor jaringan baik kualitas maupun kuantitasnya. Jika kita berasumsi tingkat kesuksesan voice call masih belum sempurna, maka data transfer dengan ponsel juga bisa menghasilkan nasib yang sama. Tingkat kestabilan data transfer yang rendah akan membuat pelanggan berpikir ebih baik tidak melakukan koneksi dari pada putus transfer di tengah download.
Belum lagi masalah koneksi data yang tidak dibatasi operator hingga selalu melebihi jumlah maximum yang berakibat putusnya koneksi data dan juga keterbatasan jumlah Base Transceiver Station (BTS).
Ketiga, citra penyelenggara 3G. Citra yang diharapkan adalah bahwa layanan 3G itu lebih penting ketimbang teknologinya. Operator seluler di Indonesia perlu belajar dari KDDI di Jepang yang terbukti lebih berhasil memasarkan 3G dibandingkan NTTDoCoMo. Saat memasarkan 3G, KDDI justru tidak terlalu menekankan pentingnya istilah 3G yang terlalu bersifat teknis dan tidak “membumi” bagi pelanggan umumnya. KDDI justru lebih fokus dengan pelayanan tambahan dan manfaat akhir yang bisa dinikmati pelanggan. Citra yang diciptakan bukan lagi sekedar high tech tetapi juga high touch seperti misalnya kemampuan untuk berinteraksi dengan anak atau cucu tercinta yang lebih bersifat emosional.
Keempat, faktor harga yang akan turut mempengaruhi keberhasilan adopsi 3G. Hal ini disebabkan oleh perangkat handphone yang belum siap secara kualitas dan kuantitas. Ditambah lagi dengan harga ponsel dengan fasilitas 3G yang masih tergolong mahal.

V-Girl dan V-Boy di Hongkong menghasilkan tingkat adopsi yang tinggi dikarenakan Hongkong merupakan negara dengan harga voice call termurah di dunia dan bahkan lebih murah dari SMS dimana untuk 2000 menit hanya berharga EUR14.

Kelima, tidak tersedianya isi layanan yang sesuai dengan selera masyarakat serta belum adanya content provider (perusahaan penyedia layanan web site) yang pas untuk aplikasi 3G serta aplikasi yang tidak tersedia secara otomatis. Kalaupun ada, masih terpengaruh layanan GSM.
Keenam, budaya di Indonesia yang masih lebih senang dengan text dan suara. Operator jangan lupa belajar dari kegagalan multimedia messaging service (MMS), enhanced messaging services (EMS), dan enhanced data rates for GSM (EDGE) dimana budaya penggunaan di Indonesia yang lebih menyukai suara dan SMS

Jangan sekedar tergiur dengan keberhasilan SMS dengan teknologi 2G yang bisa mencapai 15 juta per hari, sementara MMS hanya 20.000 per hari. Jangan lupa bahwa keberhasilan sebuah aplikasi teknologi baru tidak hanya tergantung kecanggihan teknologi saja, tetapi juga budaya dan kebiasaan masyarakat. Kesuksesan DoCoMo tidak terlepas dari budaya membaca yang tinggi dan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi sehingga terbiasa untuk membaca dalam perjalanan menggunakan bus atau kereta. 



Ketujuh, hambatan-hambatan yang bersifat moral dikhawatirkan dapat memicu persepsi negatif terhadap jasa ini. Tanggapan yang terjadi di negara lain dapat menjadi contoh bagaimana teknologi 3G bagaikan pisau bermata dua. Lihat saja bagaimana Perdana Menteri Kamboja sampai harus mengeluarkan regulasi yang melarang penggunaan video dalam telepon seluler karena ditakutkan dapat menyebarkan pornografi yang merusak moral generasi muda. Menariknya lagi, regulasi ini dikeluarkan setelah sang Perdana Menteri diprotes oleh Istri-nya tercinta.

Atau misalnya di Jepang dimana para wanita yang terlibat dalam bisnis prostitusi menggunakan video call untuk bertransaksi dengan pelanggannya. Ini tentu saja bukan salah teknologi, tetapi salah si pemakai. Namun demikian, kemampuan teknologi 3G untuk menciptakan manusia yang memiliki freedom in time, freedom in space dan freedom in use of feature jangan sampai menghancurkan “tulang rusuk” yang merupakan penyangga kehidupan dunia.

Kalau memang 3G yang bisa menghadirkan V-Girl dan V-Boy membuat sang “tulang rusuk” tetap diakui keberadaannya, tentu merupakan efek positif yang harus bisa dimasyarakatkan seperti hasil penelitian CNN dimana wanita lebih rela sang suami berkencan dengan V-Girl. Jangan sampai kemudian 3G dianggap sebagai si pencuri tulang rusuk alias membuat pria kehilangan “nafsu” dengan wanita beneran dan juga sebaliknya.

Kehadiran 3G diharapkan dapat menghadirkan kejujuran di masyarakat kita baik hubungan dalam keluarga, hubungan atasan-bawahan maupun hubungan dalam masyarakat karena dunia sudah tanpa batas (the world is flat). The world is flat implies that our honesty hinges on our thumbs. Kejujuran ada di jari tangan manusia! Terima kasih 3G!!!

Thursday, March 02, 2006

Big Brand Big Pleasure (18) : Trubus

Salam Marketer

kemarin di Kompas ada iklan dari Trubus, ya siapa sih ndak kenal dengan majalah yang satu ini

kalau mendengar merek Trubus, pasti asosiasi nya langsung ke majalah flora, di iklan tersebut menampilkan Trubus Kids

sebuah brand extention yang menarik sekaligus educate future customers yaitu anak2 yang 10 tahun mendatang mungkin akan baca Trubus

Trubus juga terlihat punya beberapa bisnis lain seperti penerbitan dan sebagainya cuma setahu saya sih tidak menggunakan Trubus sebagai authority brand di industri media flora ini, kalau ndak salah beberapa grup media besar juga coba melawan Trubus tapi sepertinya kurang berhasil, mungkin karena Trubus image nya sudah terlalu kuat di benak pelanggan

Trubus merupakan sebuah contoh bagaimana big brand yang sudah menjadi brand authority untuk urusan media flora bisa memanfaatkan brand-nya untuk melayani anak-anak juga

Salam Marketer

Monday, February 13, 2006

Big Brand Big Pleasure (17) : Oprah Radio

Salam Marketer

Oprah Winfrey kembali melakukan brand extention dengan meluncurkan Oprah Radio
yang katanya menelan investasi hingga 500 milyar, sebuah brand investment yang cukup
berani yang tentu saja diharapkan menghasilkan return yang menarik juga

sudah bukan rahasia lagi bagaimana acara Oprah Winfrey Show bisa dijadikan
sebagai sumber promosi yang menarik bagi siapa saja mulai dari pemilik merek mobil
sampai dengan penjual pelatihan untuk diet yang kalau sudah di-endorse oleh Oprah maka pasti
langsung laris manis bak kacang goreng

nah kalau di Oprah Radio rasanya juga bisa menghasilkan cash flow yang sama.
sebuah merek yang memang sangat luar biasa. kita lihat saja sejauh mana Oprah sebagai
sebuah merek akan berhenti melakukan brand extention

saya masih penasaran menunggu siapa sosok yang bisa jadi Oprah nya Indonesia

Salam Marketer

Big Brand Big Pleasure (16) : Oprah - An Honest Brand

Salam Marketer

Oprah menyihir pembaca buku!!!!
Kok bisa? bayangkan saja, Oprah bisa mempengaruhi penjualan buku sekitar 20-100
kali lipat lebih kuat dibandingkan tokoh manapun di dunia. Itulah hebatnya merek
Oprah Winfrey. Merek yang memiliki penghasilan 225juta dolar per tahun dan dianggap
sebagai selebritis terkaya versi Fortune.

Pada 22 September lalu Oprah mengumumkan pilihan Oprah's Book Club terbaru yaitu
A Million Little Pieces karya James Frey. Para peserta klub memborong 85.000 kopi
dan 615.000 kopi buku tersebut lengkap dengan stempel Oprah's Book Club!!!

Luar biasa, bukan? Buku apapun yang dibahas oleh Oprah dalam Oprah's Book Club
sepertinya pasti laris manis di beli. Pembaca memang seringkali kesulitan untuk
menentukan buku mana yang akan dibeli, hal ini dimanfaatkannya melalui Oprah's
Book Club

Namun si Oprah baru saja tersandung "kasus" karena cerita A Million Little
Pieces yang popular karena Oprah ternyata hanya cerita fiksi sementara Oprah sudah terlanjur
mempromosikannya sebagai the true story dan bahkan membela habis-habisan novel
ini di acara Larry King Live-nya CNN.

Sekarang baru ketahuan kalau novel tersebut hanya ilusi atau fiksi belaka. Tidak
mau merusak namanya, maka Oprah secara JUJUR dan berani mengakui di depan publik
dalam salah satu show-nya kalau dia telah salah mempromosikan novel tersebut
sebagai cerita asli. Luar biasa sekali!!! Inilah hebatnya Oprah, big brand yang penuh
dengan kejujuran tanpa perlu takut kehilangan nama besarnya.

Kehebatan Oprah sebagai sebuah merek besar terlihat pada saat perseteruannya
dengan merek Hermes dimana diceritakan pada 14 Juni 2005 Oprah ditolak untuk masuk ke
salah satu outlet Hermes di Prancis karena kebetulan memang hari tersebut tutup. Akan
tetapi

Oprah sepertinya tidak memahami sehingga muncullah semacam kekecewaan yang
berujung pada "ancaman" Oprah akan menceritakan kisahnya di acara Oprah Winfrey
Show yang ditonton oleh 30 juta orang di 100 negara? Kesalahpahaman berakhir setelah
pihak Hermes meminta maaf dan menjelaskan kalau outlet tersebut memang ditutup untuk
kepentingan event PR.

Di Indonesia memang kita mengenai Oprah melalui Oprah Winfrey Show yang
ditayangkan Indosiar. Padahal sebagai sebuah brand, Oprah tergolong cerdik melakukan brand
extention. Lihat saja sederet produk seperti "O – The Oprah Magazine";
"Breakfast with Oprah"; "Oprah's Angel Network"; "Oprah Boutique"

Bahkan salah satu serial televisi terheboh 2005 "Desperate Housewives"
terinspirasi dari Oprah Winfrey Show. Ternyata sang produser mendapat ide justru setelah menonton
acara Oprah Winfrey Show yang menampilkan kalangan ibu-ibu yang memiliki permasalahan
karena kesibukan suaminya atau ditinggal suaminya dan hanya disibukkan tuk
ngurus anak sementara sang suami pulang cuma "minta jatah"

Serial yang diyakini cukup memenuhi "keinginan dan kebutuhan" para desperate
housewives yang akhirnya meledak laris manis seperti Sex and The City.
Oprah, seorang wanita yang berhasil mem-branding-kan dirinya dengan baik
sehingga Oprah sebagai sebuah brand memiliki nilai jual yang luar biasa dan bisa
menggerakkan kalangan wanita dan Ibu-ibu di seluruh dunia. Di balik sebuah merek Oprah yang
besar ternyata tersimpan sebuah kerendahan hati dan kejujuran seperti yang
ditunjukkannya dalam kasus novel A Million Little Piece.

How honest is your brand?

Salam Marketer

Big Brand Big Pleasure (16) : Oprah - An Honest Brand

Salam Marketer

Oprah menyihir pembaca buku!!!!
Kok bisa? bayangkan saja, Oprah bisa mempengaruhi penjualan buku sekitar 20-100
kali lipat lebih kuat dibandingkan tokoh manapun di dunia. Itulah hebatnya merek
Oprah Winfrey. Merek yang memiliki penghasilan 225juta dolar per tahun dan dianggap
sebagai selebritis terkaya versi Fortune.

Pada 22 September lalu Oprah mengumumkan pilihan Oprah's Book Club terbaru yaitu
A Million Little Pieces karya James Frey. Para peserta klub memborong 85.000 kopi
dan 615.000 kopi buku tersebut lengkap dengan stempel Oprah's Book Club!!!

Luar biasa, bukan? Buku apapun yang dibahas oleh Oprah dalam Oprah's Book Club
sepertinya pasti laris manis di beli. Pembaca memang seringkali kesulitan untuk
menentukan buku mana yang akan dibeli, hal ini dimanfaatkannya melalui Oprah's
Book Club

Namun si Oprah baru saja tersandung "kasus" karena cerita A Million Little
Pieces yang popular karena Oprah ternyata hanya cerita fiksi sementara Oprah sudah terlanjur
mempromosikannya sebagai the true story dan bahkan membela habis-habisan novel
ini di acara Larry King Live-nya CNN.

Sekarang baru ketahuan kalau novel tersebut hanya ilusi atau fiksi belaka. Tidak
mau merusak namanya, maka Oprah secara JUJUR dan berani mengakui di depan publik
dalam salah satu show-nya kalau dia telah salah mempromosikan novel tersebut
sebagai cerita asli. Luar biasa sekali!!! Inilah hebatnya Oprah, big brand yang penuh
dengan kejujuran tanpa perlu takut kehilangan nama besarnya.

Kehebatan Oprah sebagai sebuah merek besar terlihat pada saat perseteruannya
dengan merek Hermes dimana diceritakan pada 14 Juni 2005 Oprah ditolak untuk masuk ke
salah satu outlet Hermes di Prancis karena kebetulan memang hari tersebut tutup. Akan
tetapi

Oprah sepertinya tidak memahami sehingga muncullah semacam kekecewaan yang
berujung pada "ancaman" Oprah akan menceritakan kisahnya di acara Oprah Winfrey
Show yang ditonton oleh 30 juta orang di 100 negara? Kesalahpahaman berakhir setelah
pihak Hermes meminta maaf dan menjelaskan kalau outlet tersebut memang ditutup untuk
kepentingan event PR.

Di Indonesia memang kita mengenai Oprah melalui Oprah Winfrey Show yang
ditayangkan Indosiar. Padahal sebagai sebuah brand, Oprah tergolong cerdik melakukan brand
extention. Lihat saja sederet produk seperti "O – The Oprah Magazine";
"Breakfast with Oprah"; "Oprah's Angel Network"; "Oprah Boutique"

Bahkan salah satu serial televisi terheboh 2005 "Desperate Housewives"
terinspirasi dari Oprah Winfrey Show. Ternyata sang produser mendapat ide justru setelah menonton
acara Oprah Winfrey Show yang menampilkan kalangan ibu-ibu yang memiliki permasalahan
karena kesibukan suaminya atau ditinggal suaminya dan hanya disibukkan tuk
ngurus anak sementara sang suami pulang cuma "minta jatah"

Serial yang diyakini cukup memenuhi "keinginan dan kebutuhan" para desperate
housewives yang akhirnya meledak laris manis seperti Sex and The City.
Oprah, seorang wanita yang berhasil mem-branding-kan dirinya dengan baik
sehingga Oprah sebagai sebuah brand memiliki nilai jual yang luar biasa dan bisa
menggerakkan kalangan wanita dan Ibu-ibu di seluruh dunia. Di balik sebuah merek Oprah yang
besar ternyata tersimpan sebuah kerendahan hati dan kejujuran seperti yang
ditunjukkannya dalam kasus novel A Million Little Piece.

How honest is your brand?

Salam Marketer

Sunday, November 20, 2005

Big Brand Big Pleasure (15) : Fanbo

Salam Marketer

Fanbo, kenal dengan merek yang satu ini? ini salah satu merek dari jaman dulu yang masih bertahan, liat aja pas lebaran kemarin malah sibuk beriklan

Fanbo sebagai bedak bubuk memang dikenal masyarakat luas karena menyasar kalangan menengah ke bawah. Iseng-iseng saya menanyai sebagian wanita di kantor saya dan semuanya tahu kalau Fanbo itu adalah merek bedak!!!

ternyata merek yang satu ini tetap aja diingat banyak orang meskipun wanita modern sekarang apalagi yang tinggal di kota pasti merasa gengsi menggunakan merek yang satu ini

makanya terkejut juga saat melihat Fanbo beriklan di televisi menjelang lebaran. Dapat dikatakan Fanbo ini merupakan salah satu big brand di industri perbedakan Indonesia. Kehadirannya kembali di layar kaca melalui iklan tentu saja diharapkan dapat mengangkat kembali big brand ini untuk memperoleh big pleasure.

Merek yang banyak dikenal orang meskipun persepsinya untuk kalangan menengah ke bawah. kita lihat saja apakah Fanbo dapat menjadi big brand big pleasure

Salam Marketer

Wednesday, November 09, 2005

Big Brand Big Pleasure (14) : Oprah's Book Club

Salam Marketer

Oprah menyihir pembaca buku!!!!

Oprah lagi Oprah lagi........ pasti itu yang muncul di benak pembaca

Kok bisa? bayangkan saja, Oprah bisa mempengaruhi penjualan buku sekitar 20-100 kali lipat lebih kuat dibandingkan tokoh manapun di dunia

Coba simak fenomena terbaru, pada 22 September Oprah mengumukan pilihan Oprah's Book Club terbaru yaitu A Million Little Pieces karya James Frey. Para peserta klub memborong 85.000 kopi dan 615.000 kopi buku tersebut lengkap dengan stempel Oprah's Book Club!!!

Luar biasa, bukan? Buku apapun yang dibahas oleh Oprah dalam Oprah's Book Club sepertinya pasti laris manis di beli. Masyarakat melihat Oprah sebagai trendsetter yang merupakan jaminan mutu. Apapun yang direkomendasikan oleh Oprah pastilah bacaan bagus yang harus di beli.

Pembaca memang seringkali kesulitan untuk menentukan buku mana yang akan dibeli, hal ini dimanfaatkan benar oleh Oprah. Menyadari kesulitan pelanggan serta menyadari juga bagaimana Oprah merupakan sebuah big brand yang memiliki banyak penggemar yang percaya apapun yang dikatakannya, maka muncullah Oprah's Book Club

Big brand seperti Oprah memang memiliki banyak big pleasure yang bisa dipakai termasuk juga jualan buku. Bayangkan kalau sebuah brand tidak dikenal orang, bagaimana mungkin rekomendasi bukunya akan dibeli oleh masyarakat.

Saya sampai sekarang masih terkagum-kagum dengan kehebatan Oprah sebagai sebuah big brand yang terjaga, terkelola dan terutilisasi dengan baik. Big brand always brings big pleasure

Selamat berimajinasi

Salam Marketer

Word of Mouth (3) : Wal Mart Movie

Salam Marketer

Kenal Wal Mart? kalau ndak, kebangetan deh heheheheh

Wal Mart yang terkenal dengan Everyday Low Prices baru saja menghadapi tantangan baru dari beberapa pihak yang tidak menyukainya. Salah satunya datang dari Robert Greenwald yang baru saja membuat film khusus untuk menyerang Wal Mart

Film tersebut diberi judul "Wal Mart : The High Cost of Low Price" Si Robert Greenwald sang pembuat film ternyata memanfaatkan word of mouth (WOM) untuk memperkenalkan film-nya sekaligus menyerang Wal Mart yang dianggap telah merusak kehidupan di kota-kota kecil serta isu-isu lainnya

Greenwald menawarkan program screening kepada semua orang dan hal tersebut dilakukan di berbagai tempat seperti di gereja. Greenwald mengundang para pengunjung gereja tersebut untuk masuk ke websitenya di www.walmartmovie.com dan melakukan download serta dapat ikut serta dalam program screening di berbagai kota di Amerika

Program screening bahkan dilakukan di berbagai pusat komunitas, kampus dan sekolah. Melalui website-nya, Greenwald juga meminta para pengunjung untuk mengirimkan email ke temannya dan secara aktif ikut menyuarakan anti Wal Mart

Bahkan para pengunjung website diberikan semacam "otoritas" untuk mempromosikan film tersebut di tempat tinggal mereka dengan berbagai merchandise, website, blog, poster, t-shirt, kartu pos dan sebagainya.

Di websitenya bahkan disediakan parodi yang dapat di-download. Greenwald benar-benar memanfaatkan word of mouth untuk membesarkan "pasarnya" dan membuat banyak masyarakat yang anti Wal Mart untuk melakukan action. Word of mouth yang diharapkan tidak hanya menciptakan awareness tetapi juga action.

Jangan main-main dengan word of mouth, sangat kredibel dan efektif sekaligus berbahaya kalau merek kita yang jadi sasaran

Salam Marketer

Tuesday, November 08, 2005

Word of Mouth (2) : Bike Friday

Salam Marketer

Pernah membayangkan bagaimana seorang pemilik sepeda yang membeli sepedanya pada tahun 1995 berhasil mengajak 100 orang untuk membeli sepeda yang sama? ajakan kepada 100 orang tersebut telah menghasilkan penjualan sebesar $300.000!!

Itulah yang dilakukan oleh Margaret Day, seorang konsumen sepeda merek Bike Friday. Margaret tidak hanya sekedar menikmati sepedanya tetapi juga menikmati untuk menceritakan tentang sepedanya dan mengajak orang lain untuk membeli sepeda yang sama.

Sekelumit cerita diatas merupakan hasil dari berbagai program newsletters, bike clubs dan referral rewards program yang dilakukan oleh Bike Friday -- produsen sepeda -- yang memanfaatkan word of mouth (WOM) dibandingkan dengan advertising.

Bike Friday memanfaatkan WOM dengan berbagai cara khususnya melalui 30 Bike Friday Clubs of America yang dimilikinya. Klub ini merupakan pusat dari segala WOM yang terjadi karena dengan kegiatan komunitas ini akan menjaring pembeli dan pengguna baru serta menciptakan publikasi dimana-mana.

Bike Friday juga memiliki program referral award dimana para pembeli sepeda akan memperoleh 12 kartu pos pra bayar dengan nama mereka tertera di sana plus nama si penjual. Setiap saat pelanggan tersebut bertemu dengan seseorang yang tertarik dengan sepeda, maka si pemilik kartu tersebut akan menuliskan nama orang tersebut dan kemudian mengirimkan kartu tersebut ke Bike Friday

Bike Friday kemudian mengirimkan informasi kepada orang yang tertarik tersebut, memasukkannya dalam database dan setiap penjualan yang terjadi akan memberikan penghasilan bagi yang me-rekomendasi-kan mulai dari cek $50 sampai dengan kredit $75 untuk pembelian produk di masa mendatang

Program referral award ini telah menghasilkan sekitar sepertiga dari total 10.000 sepeda yang terjual tahun lalu. Bahkan dalam 3,5 tahun terakhir menghasilkan penjualan sekitar $1,3 juta. Di tahun 2004 saja, 29 persen penjualan Bike Friday berasal dari program referral award

Memang sudah saatnya para pemasar memikirkan untuk memanfaatkan WOM dan tidak hanya tergantung iklan saja.

Salam Marketer

Thursday, October 20, 2005

Big Brand Big Pleasure (13)

Salam Marketer

kalau sudah lebaran begini, produk yang laris manis pasti aja sirup dan tentu biskuit. Kalau lebaran begini, satu brand yang tidak bisa dilupakan adalah Khong Guan

ya ini adalah big brand yang luar biasa. rasanya kalau ingat lebaran ya ingat Khong Guan. inilah hebatnya si Khong Guan. Hampir dapat dikatakan kita jarang menemui iklan merek yang satu ini tetapi tetap saja mereknya tertancap kuat di benak kita

Bahkan dari salah satu rekan saya, kabarnya para pejabat tinggi sampai memesan ratusan kardus Khong Guan yang tentu saja untuk diberikan kepada para kolega dan saudaranya. Khong Guan memang luar biasa

Mungkin big brand yang satu ini cukup jualan tuk beberapa waktu menjelang lebaran sudah dapat menikmati hasilnya untuk satu tahun. Occasional product seperti ini memang membutuhkan brand yang kuat sehingga kalau lebaran langsung teringat ama si Khong Guan tanpa perlu susah payah buang budget untuk iklan

emang enak jadi big brand seperti Khong Guan. big brand with big pleasure

Selamat berimajinasi

Salam Marketer