3G Si Pencuri Tulang Rusuk
Kejujuran Ada Di Jari Kita
Apa yang ada di benak pria mendengar nama seorang wanita Vivienne?
Wanita cantik semampai dengan wajah mempesona?
Sebuah persepsi yang tidak keliru. Nama nan indah ala kebarat-baratan yang menggugah hati pria normal. Namun, tunggu dulu. Bagi pria yang kurang percaya diri mungkin akan sulit mendapatkansi Viviene. Ya itulah persepsi 5 atau 10 tahun lalu. Meniru sebuah iklan seluler “Hari gini nggak bisa dapat Viviene? Jaman sekarang tidak perlu khawatir, apapun bisa didapatkan dengan 3G apalagi hanya seorang wanita impian atau bahkan pria impian.
Ya, semuanya gara-gara sebuah perusahaan penyedia teknologi dan aplikasi bergerak di Hongkong bernama Artificial Life, Inc. (ALI) di tahun 2004 yang lalu meluncurkan V-Girl alias Virtual Girlfriend yang dapat “dikencani” dengan jasa 3G dengan biaya bulanan hanya $6
Para pria baik yang masih jomblo, single, menikah, duda atau doyan poligami dengan bebas bisa berkencan dengan V-Girl ini. Tanpa perlu banyak peraturan bisa mengadakan kencan. Bahkan si pria dengan bebas bisa memilih karakter, pekerjaan dan tentu saja body yang diidam-idamkan. V-Girl menawarkan 5 pilihan mulai dari the athlete, the socialite, the dreamer, the sweetheart dan the devil in disguise.
Dijamin gak akan bosan. Kalau para pria hidung belang selama ini sering berguyon “Masak tiap hari makan sayur asem di rumah, sekali-kali coba tahu bacem di luar rumah dong”, maka sekarang pilihan “tahu bacem” nya tidak perlu di luar rumah lagi, cukup melalui telepon seluler (ponsel) dan koneksi 3G
Si pria bisa mengeluarkan semua jurus rayuannya dan membelikan berbagai hadiah mulai dari baju model terbaru, cokelat, bunga dan perhiasan dan berkencan selama 24 jam kapan sapa dan dimana saja. Celakanya lagi, pria membelikan hadiah virtual tetapi dengan uang beneran! “Kasian deh loe”, mungkin itu ucapan dari kelima sosok pacar maya tersebut. Pria memang seringkali mau menghabiskan apa saja untuk wanita.
Tidak cukup hanya itu, melihat “kecemburuan” wanita dengan hadirnya “pesaing” mereka yang selalu setia dan “always on” selama 24 jam, ALI dengan cepat menangkap sinyal kecemburuan tersebut dengan meluncurkan V-Boy alias Virtual Boyfriend di awal tahun 2006.
Dengan konsep yang serupa V-Girl, para wanita juga bisa memilih pacar idamannya mulai dari seorang venture capitalist, body builder, café manager, actor/model dan pilot yang bernama Baxter, Kai, Jacky, Rex dan Skylar! Keren Bok! So, jangan takut gak laku. Semua wanita dan pria pasti laku asalkan memiliki ponsel 3G.
Itulah sebuah contoh bagaimana 3G dalam aplikasinya sehari-hari telah mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan termasuk hal terindah dalam sejarah perjalanan hidup seorang manusia yaitu berhubungan dengan lawan jenis.
Di era jaman sekarang dimana teknologi informasi tersedia dengan mudah dan cepat, tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan pria dan wanita juga sedikit banyak terpengaruh. Perselingkuhan diam-diam sering tercium oleh seorang istri hanya gara-gara SMS atau sisa miscall yang belum sempat dihapus.
Lalu, apakah kehadiran 3G akan sedikit membantu? Sebagian wanita yang disurvei oleh CNN justru menunjukkan sikap positif terhadap kehadiran pacar wanita virtual ini. Bagi mereka, lebih aman untuk “membiarkan” cowok mereka “berkencan” dengan pacar virtual dibandingkan harus berpaling kepelukan wanita beneran. Mengapa mereka berpikir seperti itu? Karena pria tidak bisa dipercaya! Itulah alasan utama mereka.
Kalau wanita sering disebut sebagai tulang rusuk seorang pria, maka mengutip penelitian CNN tersebut seharusnya wanita berbahagia karena tulang rusuk pria bukan dicuri oleh sesama tulang rusuk tetapi justru oleh penyelamat mereka yang dikenal dengan 3G. Lebih baik kan selingkuh dengan ponsel.
Layanan 3G atau 3rd generation service memang cukup menghentakkan dunia teknologi seluler dan kehidupan manusia dalam tingkat tertentu. 3G merupakan layanan komunikasi bergerak yang menjanjikan peningkatan bandwidth hingga 384 Kbps ketika diakses dalam keadaan diam dan berjalan, sementara kalau di kendaraan yang bergerak, kecepatannya sekitar 128 Kbps. Sedang untuk aplikasi tetap bisa mencapai 2Mbps.
Sebenarnya penggunaan istilah 3G diawali dari pemikiran untuk menciptakan standar konvergensi telekomunikasi seluler suara dan data pada tahun 1996-1997. Dalam perkembangannya, konsep konvergensi ini disebut sebagai generasi ketiga (3G) dari perkembangan teknologi telekomunikasi seluler. Di mana generasi keduanya (2G) ditandai dengan berkembangnya teknologi seluler digital (dengan teknologi GSM) dan generasi pertama (1G) melalui teknologi seluler analog (AMPS).
Secara kasat mata, potensi 3G dianggap cukup besar khususnya dari perspektif jumlah pelanggan GSM, CDMA dan TDMA yang telah mencapai lebih dari 2 miliar – menurut GSM Association, pengguna GSM sendiri telah mencapai 2 miliar pada Juni 2006 – yang bisa dibilang merepresentasikan besarnya potensi peluang pasar 3G di dunia.
Memang tidak semua penerapan 3G memberi hasil sebagaimana diharapkan. Namun demikian, Wireless World Forum memberikan angka yang cukup optimis dimana pelanggan 3G global meningkat dari 45 juta (2004) menjadi 85 juta pada 2005.
Dua negara yang tergolong berhasil mengkomersialkan 3G adalah Jepang dan Korea. Kedua negara ini memang dikenal memiliki penetrasi ponsel per kapita tertinggi di dunia. Bahkan 2/3 (di Jepang mencapai 68 persen sementara Korea mencapai 76,7 persen) pengguna ponsel di sana telah menggunakan 3G yang berarti – menurut UMTS World – 10 kali lebih cepat penetrasinya dibandingkan Amerika Serikat
KDDI adalah operator seluler tersukses untuk urusan 3G setelah SKTelecom Korea. Meskipun jumlah pelanggan KDDI hanya 14 juta tetapi pengguna 3G mencapai 6 juta, sementara NTTDoCoMo dengan 58 juta pelanggan hanya menghasilkan 190 ribu pengguna 3G. para pengguna 3G di Jepang dan Korea rela menambah anggaran rata-rata 30 persen untuk menikmati jasa 3G ini.
Jepang dengan total pengguna 3G sekitar 16,5 juta terbukti lebih tinggi dibandingkan misalnya Italia dan Inggris yang masing-masing 6,8 juta dan 4 juta pelanggan. Ternyata penetrasi 3G di Asia memang terlihat lebih berhasil dibandingkan Eropa atau Amerika.
Salah satu fenomena pemicu adalah para pengguna seluler di Asia memiliki tanggapan yang lebih positif terhadap teknologi baru sehingga lebih gemar mencoba layanan baru dan berganti ponsel melebihi pelanggan AS dan Eropa.
Menurut survei yang dilakukan Ericsson Consumer Lab di Indonesia, men-download musik dan menonton televisi melalui ponsel adalah bagian dari tiga layanan menarik utama. Hal ini menunjukkan potensi besar untuk kedua layanan tersebut di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Mobile Life 1 yang dipimpin oleh Professor Paddy Barwise dari London Business School di tahun 2005 menunjukkan 10 hal yang paling diinginkan pelanggan melalui 3G yaitu Mobile coupon redemption, Parking meter payment, Loyalty cards, Season tickets, Credit/Debit cards, Flight check-in, Vending machine payment, Retail checkout, Marketing communication dan Using your mobile as a key.
Lalu, kira-kira apa yang membuat 3G memiliki prospek besar? Secara umum, ada 3 hal yang membuat 3G memiliki daya tarik bagi pengguna ponsel.
Pertama, 3G memiliki interactive speed (kecepatan interaktif) yang on-time yang tidak dimiliki oleh teknologi dan atau media-media lainnya. Dengar saja bagaimana cerita seorang agen properti yang mendatangi calon penjual rumah dengan membawa handphone 3G. si agen akan mengambil foto rumah yang hendak dijual, kemudian mengirimkannya ke website kantor. Dalam waktu sekejap, sang agen akan membuka website kantornya dan menunjukkan bagaimana dalam hitungan menit dan bahkan detik, foto rumah tersebut telah terpajang untuk dijual.
Misalnya orang tua yang baru mendapatkan bayi pertamanya dapat mengirimkan mobile video secara langsung kepada sang nenek atau kakek atau bahkan seorang teman yang sedang pesta dan mabuk dapat mengajak temannya ikut merasakan suasana tersebut jika kebetulan tidak bisa hadir.
Penggunaan 3G untuk layanan entertainment seperti mobile video, music download, video games, mobile dating, blogging, video calls, e-commerce, mobile banking, sales force management, dan video conference dapat menghemat waktu yang diperlukan manusia. Ambil contoh Finlandia yang teknologi 3G nya berhasil menguasai 40% penjualan tiket bus. Contoh lain adalah Kroasia dimana 50% pembayaran parkir menggunakan layanan 3G dan Austria yang 20% pembelian tiket konser musik melalui 3G. Di Asia Tenggara, Filipina memanfaatkan 3G untuk pembelian tiket penerbangan.
Bahkan di Eropa sempat dilakukan ujicoba MobiHealth yang didukung oleh Commission of the European Union. Sembilan ujicoba yang dilakukan di Jerman, Belanda, Swedia dan Spanyol tersebut memungkinkan pemeriksaan medis kapan saja dan dimana saja memanfaatkan teknologi 3G. MobiHealth mengembangkan Body Area Network (BAN) yang dapat melakukan remote detection.
Dari segi bisnis juga bisa mempengaruhi kecepatan pemasaran seperti apa yang dilakukan oleh Singapore Telecom (Singtel) yang memasarkan serial drama “The Prince Who Lost His Memory” sepanjang 10 episode dengan durasi 3 menit. Film baru dapat dipasarkan dengan cepat dan tentu saja bisa menjadi sebuah feedback sejauh mana respon pasar terhadap sebuah produk baru.
Perusahaan produsen pakaian Workgear Company bahkan membekali setiap penjualnya dengan ponsel Nokia 6680 yang dibekali 3G. Saat penjual menemui pelanggan, ada kemungkinan produk yang mereka bawa bukanlah yang dicari oleh pelanggan. Untuk itu, sang penjual dapat melakukan video call ke gudang dan menunjukkan semua persediaan di gudang tanpa perlu menghabiskan biaya transportasi harus bolak-balik ke gudang.
Kedua, manfaat pertama berupa interactive speed memberikan manfaat positif dari segi moral yaitu menghasilkan sebuah interaksi yang penuh dengan kejujuran. Kejujuran bukan lagi dinilai dari omongan atau perkataan tetapi ada di jari tangan kita.
3G juga lah yang akhirnya menciptakan model baru kejujuran yang disebut thumb-based honesty (kejujuran berbasis jari). Thumb generation membantu pemilik perusahaan mengambil keputusan dengan cepat dan dapat langsung memeriksa apakah seorang salesman benar berada di toko pelanggan atau justru di panti pijat. Seorang wanita/istri dapat mengecek kebenaran keberadaan pacar/suaminya. Dengan adanya 3G, waktu dalam hidup rasanya lebih produktif!
Tanpa 3G, misalnya dengan SMS, rasanya kebohongan masih dimungkinkan. Tidak percaya? Penelitian yang dilakukan oleh Mobile Messaging Association menunjukkan kalau 45% responden mengaku berbohong tentang lokasi keberadaan mereka memanfaatkan pesan teks. Kalau hanya modal teks, apapun bisa dimanipulasi, bukan? Jadi, 3G memberikan manfaat positif berupa sebuah kejujuran. Seorang suami atau istri tidak bisa berkata ada dikantor seandainya dia sedang ada di pub. Kecuali pub tersebut menyediakan ruangan khusus untuk berbohong.
Sebuah manfaat 3G yang cukup positif meskipun bisa menjadi hambatan juga karena sebagian pria di Hongkong yang di survei ternyata menolak layanan 3G yang bisa menguak “kebohongan” mereka.
Ketiga, kehadiran teknologi 3G memungkinkan sebuah interaksi yang sangat intim dan personal. Interaksi dengan kecepatan tinggi dan on-time dapat memunculkan kesan dan perasaan personalisasi. Contoh V-Boy dan V-Girl diatas menunjukkan bagaimana personalisasi hubungan dapat tercipta melalui 3G.
Pernah dengar The Lovers’ Guide? Situs asal Inggris ini memang dikhususkan untuk mereka yang sudah dewasa tapi tidak dapat digolongkan sebagai situs porno. Situs ini sebenarnya lebih ditujukan untuk pasangan yang berniat untuk membuat hubungannya makin romantis khususnya masalah hubungan seksual. Situs yang memberikan berbagai tips berkaitan dengan hubungan suami istri dan juga berbagai video edukasi yang “cukup sopan”
Lalu, apa hubungannya dengan 3G? Ya, The Lovers’ Guide bekerjasama dengan operator bermerek 3 di Inggris untuk menjual video-videonya yang selama ini bisa didapatkan melalui website.
Video edukasi dengan durasi 30-60 detik tersebut yang diberi julukan “sexy, sensual, moral and responsible” nantinya tersedia untuk para pelanggan 3 meskipun mereka harus membuktikan diri telah berusia di atas 18 tahun.
The Lovers’ Guide memang menjadi fenomena unik sejak awal peluncurannya di tahun 1991 yang berhasil menjual lebih dari 1,3 juta kopi di Inggris saja belum termasuk belahan dunia lainnya. Penawarannya berkembang dari sekedar DVD menuju SMS tips dan akhirnya pemanfaatan 3G untuk mobile video.
Di Eropa, Mobestar bergabung dengan 3G-Scene mengembangkan teknologi 3G Video Dating yang menyediakan jasa kencan bergerak kepada operator di seluruh dunia. Salah satu pelayanannya adalah FACE (Flexible Anonymous Communications Engine) yang memungkinkan pengguna melakukan video dan voice calling dengan teman kencannya personally.
Lalu, kenapa kelebihan-kelebihan tersebut ternyata justru tidak membuat 3G berhasil di semua belahan dunia seperti Eropa atau AS. Tercatat hanya Jepang dan Korea yang tergolong cukup berhasil. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Kita perlu menyadari tujuh alasan dibalik keberhasilan penetrasi 3G di Jepang dan Korea. Pertama, penduduk Jepang dan Korea memiliki tingkat “kegilaan” yang tinggi terhadap produk-produk baru baik itu teknologi maupun fashion dimana mereka berganti ponsel rata-rata 6 bulan sampai dengan 2 tahun sekali.
Kedua, Jepang dan Korea merupakan negara dengan budaya yang serba cepat. Korea misalnya terkenal dengan babli-bbali yang berarti cepat dan buru-buru sehingga waktu sangat berharga. Ketiga, infrastruktur teknologi yang solid dimana Korea merupakan negara pertama mengkomersialisasikan CDMA, sementara Jepang merupakan negara pertama memperkenalkan 3G.
Keempat, pemerintahan kedua negara secara agresif mendorong pertumbuhan teknologi elektronik yang akhirnya memicu produsen ponsel dan juga perusahaan untuk memanfaatkan ponsel dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.Kelima, 2/3 dari populasi telah menggunakan ponsel sehingga menciptakan critical mass dan society independency. Satu sama lain saling terikat dengan jasa ponsel.
Keenam, Korea dan Jepang merupakan negara dengan area yang padat sehingga lebih mudah mengembangkan BTS yang dapat berada dalam jarak dekat sehingga menghasilkan pengalaman menikmati ponsel yang lebih sempurna. Ketujuh, budaya kedua negara yang sangat menghargai waktu dan senang membaca. Tidak heran jika mereka memanfaatkan teknologi 3G untuk berinteraksi, membaca dan atau apapun di setiap waktu senggang mereka dalam perjalanan di kereta atau bus.
Dibalik tiga kelebihan 3G seperti disebutkan di atas, di Indonesia sendiri masih terdapat beberapa hambatan untuk penetrasi 3G.
Pertama, handset yang masih tergolong mahal dan aplikasi yang masih kurang user-friendly. Para pengguna 3G di Eropa sering kali hanya mengejar handphone 3G yang diberikan secara gratis oleh operator 3G. Untuk apa? Ternyata untuk memperoleh kamera handphone yang baik karena dapat menghasilkan gambar yang baik. Tentunya untuk menghemat pulsa umumnya para pelanggan ini tidak menggunakan 3G untuk mengirimkan gambarnya.
Kinerja layanan operator juga masih sering tidak stabil. Sebut saja misalnya pengiriman SMS yang kadang sering terlambat, berbeda jauh dengan di Filipina yang dapat terkirim dalam tempo 1 detik. Lalu bagaimana dengan 3G?
Kedua, faktor jaringan baik kualitas maupun kuantitasnya. Jika kita berasumsi tingkat kesuksesan voice call masih belum sempurna, maka data transfer dengan ponsel juga bisa menghasilkan nasib yang sama. Tingkat kestabilan data transfer yang rendah akan membuat pelanggan berpikir ebih baik tidak melakukan koneksi dari pada putus transfer di tengah download.
Belum lagi masalah koneksi data yang tidak dibatasi operator hingga selalu melebihi jumlah maximum yang berakibat putusnya koneksi data dan juga keterbatasan jumlah Base Transceiver Station (BTS).
Ketiga, citra penyelenggara 3G. Citra yang diharapkan adalah bahwa layanan 3G itu lebih penting ketimbang teknologinya. Operator seluler di Indonesia perlu belajar dari KDDI di Jepang yang terbukti lebih berhasil memasarkan 3G dibandingkan NTTDoCoMo. Saat memasarkan 3G, KDDI justru tidak terlalu menekankan pentingnya istilah 3G yang terlalu bersifat teknis dan tidak “membumi” bagi pelanggan umumnya. KDDI justru lebih fokus dengan pelayanan tambahan dan manfaat akhir yang bisa dinikmati pelanggan. Citra yang diciptakan bukan lagi sekedar high tech tetapi juga high touch seperti misalnya kemampuan untuk berinteraksi dengan anak atau cucu tercinta yang lebih bersifat emosional.
Keempat, faktor harga yang akan turut mempengaruhi keberhasilan adopsi 3G. Hal ini disebabkan oleh perangkat handphone yang belum siap secara kualitas dan kuantitas. Ditambah lagi dengan harga ponsel dengan fasilitas 3G yang masih tergolong mahal.
V-Girl dan V-Boy di Hongkong menghasilkan tingkat adopsi yang tinggi dikarenakan Hongkong merupakan negara dengan harga voice call termurah di dunia dan bahkan lebih murah dari SMS dimana untuk 2000 menit hanya berharga EUR14.
Kelima, tidak tersedianya isi layanan yang sesuai dengan selera masyarakat serta belum adanya content provider (perusahaan penyedia layanan web site) yang pas untuk aplikasi 3G serta aplikasi yang tidak tersedia secara otomatis. Kalaupun ada, masih terpengaruh layanan GSM.
Keenam, budaya di Indonesia yang masih lebih senang dengan text dan suara. Operator jangan lupa belajar dari kegagalan multimedia messaging service (MMS), enhanced messaging services (EMS), dan enhanced data rates for GSM (EDGE) dimana budaya penggunaan di Indonesia yang lebih menyukai suara dan SMS
Jangan sekedar tergiur dengan keberhasilan SMS dengan teknologi 2G yang bisa mencapai 15 juta per hari, sementara MMS hanya 20.000 per hari. Jangan lupa bahwa keberhasilan sebuah aplikasi teknologi baru tidak hanya tergantung kecanggihan teknologi saja, tetapi juga budaya dan kebiasaan masyarakat. Kesuksesan DoCoMo tidak terlepas dari budaya membaca yang tinggi dan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi sehingga terbiasa untuk membaca dalam perjalanan menggunakan bus atau kereta.
Ketujuh, hambatan-hambatan yang bersifat moral dikhawatirkan dapat memicu persepsi negatif terhadap jasa ini. Tanggapan yang terjadi di negara lain dapat menjadi contoh bagaimana teknologi 3G bagaikan pisau bermata dua. Lihat saja bagaimana Perdana Menteri Kamboja sampai harus mengeluarkan regulasi yang melarang penggunaan video dalam telepon seluler karena ditakutkan dapat menyebarkan pornografi yang merusak moral generasi muda. Menariknya lagi, regulasi ini dikeluarkan setelah sang Perdana Menteri diprotes oleh Istri-nya tercinta.
Atau misalnya di Jepang dimana para wanita yang terlibat dalam bisnis prostitusi menggunakan video call untuk bertransaksi dengan pelanggannya. Ini tentu saja bukan salah teknologi, tetapi salah si pemakai. Namun demikian, kemampuan teknologi 3G untuk menciptakan manusia yang memiliki freedom in time, freedom in space dan freedom in use of feature jangan sampai menghancurkan “tulang rusuk” yang merupakan penyangga kehidupan dunia.
Kalau memang 3G yang bisa menghadirkan V-Girl dan V-Boy membuat sang “tulang rusuk” tetap diakui keberadaannya, tentu merupakan efek positif yang harus bisa dimasyarakatkan seperti hasil penelitian CNN dimana wanita lebih rela sang suami berkencan dengan V-Girl. Jangan sampai kemudian 3G dianggap sebagai si pencuri tulang rusuk alias membuat pria kehilangan “nafsu” dengan wanita beneran dan juga sebaliknya.
Kehadiran 3G diharapkan dapat menghadirkan kejujuran di masyarakat kita baik hubungan dalam keluarga, hubungan atasan-bawahan maupun hubungan dalam masyarakat karena dunia sudah tanpa batas (the world is flat). The world is flat implies that our honesty hinges on our thumbs. Kejujuran ada di jari tangan manusia! Terima kasih 3G!!!
